Kolonoskopi dan Sigmoidoskopi

Kanker kolorektal merupakan kanker paling banyak yang menjangkiti baik pria maupun wanita di Singapura dan negara-negara maju lainnya. Kementrian Kesehatan Singapura pernah menganjurkan siapa saja yang sudah berusia di atas 50 tahun agar mau menjalani Kolonoskopi untuk memeriksa ada tidaknya kanker kolorektal (usus besar hingga dubur).

Kolonoskopi dan sigmoidoskopi merupakan dua macam tes pengujian yang berguna untuk melihat ada tidaknya kanker kolorektal pada diri seseorang, dan bisa bersifat terapis saat mengeluarkan polip kolon. Pembuangan polip kolon sedini mungkin bisa mencegah terjadinya kanker kolon (usus besar).

Tes Kolonoskopi & Prosedur Sigmoidoskopi

Tes kolonoskopi dan prosedur sigmoidoskopi adalah serangkaian tes untuk memeriksa ada tidaknya kanker kolorektal pada diri seseorang yang membantu dokter melihat bagian dalam dari sistem pencernaan, termasuk usus besar dan rektum (dubur). Bagaimanapun, prosedur sigmoidoskopi dan tes kolonoskopi memiliki sedikit perbedaan.

Tes Kolonoskopi

Tes kolonoskopi adalah pemeriksaan yang biasanya berlangsung lebih kurang 30 menit di mana dokter memeriksa dubur dan usus besar untuk melihat tanda-tanda berkembangnya kanker (bisa berupa polip kecil ataupun besar). Patut dicatat bahwa polip dengan pertumbuhan kecil bisa berubah menjadi tumor ganas!

Tes kolonoskopi umumnya dijalani setiap lima hingga 10 tahun sekali untuk pasien dengan risiko normal atau rendah. Bagaimanapun, tiap pasien perlu berkonsultasi dengan dokter seberapa sering mereka perlu diperiksa. Pasien yang berisiko terserang tumor dalam usus besar, oleh dokter biasanya disarankan tes kolonoskopi yang lebih berkala bahkan dimulai sejak usia lebih dini, dibandingkan dengan pasien lain dengan risiko yang lebih rendah.

Prosedur Sigmoidoskopi

Prosedur Sigmoidoskopi juga sering disebut sebagai screening test usus besar yang mirip dengan kolonoskopi yang sudah dibahas di awal. Perbedaan antara kedua tes terletak pada fakta bahwa Prosedur Sigmoidoskopi lebih menitiikberatkan pada pemeriksaan dubur dan usus sigmoid (sebelah kiri dari usus besar).

Jika Prosedur Sigmoidoskopi positif, menunjukkan adanya polip di dubur, dokter akan melakukan tes kolonoskopi untuk memeriksa ada tidaknya polip di bagian usus yang lain.

Pentingnya Tes Kolonoskopi dan Prosedur Sigmoidoskopi

Baik tes kolonoskopi maupun prosedur sigmoidoskopi sama-sama membantu mendeteksi ada tidaknya kanker usus di tahap-tahap awal. Keduanya berguna untuk mengevaluasi pasien dengan pendarahan dubur, perubahan pada kerja usus, ketidaknyamanan atau sakit pada bagian perut dan hilangnya berat badan tanpa sebab. Kedua cara tersebut bisa mengurangi risiko kanker usus baik langsung maupun tidak langsung seperti berikut:

Dampak langsung dari tes Kolonoskopi dan Sigmoidoskopi

  • Setelah usus dan dubur diperiksa, dokter mungkin menerukan sejumlah polip. Polip2 ini bisa disingkirkan menggunakan Kolonoskop atau instrument-instrumen Sigmoidoskop lainnya. Jika ditemukan polip cukup besar (atau jaringan tak normal), dokter biasanya akan mengambil beberapa bagian untuk pengujian kanker.
  • Perlu disebutkan bahwa kanker yang terdeteksi sejak dini berpeluang untuk pengobatan dan kesembuhan. Polip kecil pada usus lebih mudah dibuang dibandingkan yang besar. Lebih lanjut, deteksi dini kanker bisa membantu melokalisir keberadaan kanker dan mengambil langkah-langkah pencegahan mestastasis atau penyeberan ke jaringan kulit atau organ tubuh lainnya.

Dampak tak langsung dari tes Kolonoskopi dan sigmoidoskopi

  • Pendeteksian dini akan tanda-tanda atau jejak kanker usus bisa membantu dokter mencegah berkembangnya penyakit tersebut dengan memperhatikan pola makan dan gaya hidup Si Pasien.

Jika Anda berusia di atas 50 tahun, segeralah berkonsultasi dengan dokter tentang pemeriksaan kolonoskopi untuk melihat ada tidaknya keberadaan kanker kolorektal!